Senin, 19 April 2021

KULTUR SEKOLAH_Magang 1 _Mahasiswi IAIN PONTIANAK _PAI


RESUME

SISTEM EVALUASI

Mata Kuliah:MAGANG 1

Dosen Pengampu: Farninda Aditya,M.Pd

 


 

 

Disusun Oleh: 

Annisa Rezki Eka Putri Wahyudi (11901263)

Semester/Kelas: IV/G

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

TAHUN AKADEMIK 2020/2021

 

 

A.Pengertian Kultur

    Besar Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai kebudayaaan . Istilah budaya sendiri dalam berbagai wacana, ada yang membedakan dan ada juga yang menyamakannya dengan kebudayaan . Dikatakan berbeda sebab budaya berasal dari bahasa Sanskerta «buddhi», yang berarti «budi» atau «akal» yang berupa cipta, rasa, dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa itu. Dikatakan sama sebab dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan. Dengan demikian, kedua istilah itu sebenarnya mempunyai pengertian yang sama.

Berikutnya Koentjaraningrat menyatakan bahwa kebudayaan atau budaya mempunyai tiga macam wujud, yaitu:

    a. kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma atau peraturan

  b. kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat

    c. kebudayaan sebagai hasil karya

Menyimak pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa budaya atau kultur dengan demikian dapat mengandung pengertian dalam istilah populer dan istilah teknis.

Anthropologi. Penggunaan istilah populer lebih condong merujuk kepada minat dan aktivitas tertentu, misalnya musik, sastra, seni .

    Menurut Schein (Gibson, et al, 2003: 31) budaya dapat didefinisikan sebagai: a pattern of basic assumptions --- invented, discovered, or developed by a given group as it learns to cope with problems of external adaptation and internal integration that has worked well enough to be considered valid and, therefore, to be thaugt to new members as the correct way to perceive, think, and feel in relation to those problems.

   Berikutnya Schein (1992: 8-10) juga mengidentifikasi unsur-unsur budaya atau kultur (dalam) organisasi sebagai: (1) observed behavioral regularities when people interact; (2) group norms; (3) espoused values; (4) formal philosophy; (5) rules of the games; (6) climate; (7) embedded skills; 8) habits of thinking, mental model, and/or linguistic paradigms; (9) shared meaning; dan (10) root metaphor or integrating symbols.

    Sastrapratedja juga menguraikan aspek-aspek penting dari budaya atau kultur organisasi dari berbagai hasil penelitian sebagai berikut:

    a. Budaya merupakan hasil cipta komunikasi. Budaya muncul dan dipertahankan oleh tindakan-tindakan komunikasi dari semua anggota dan bukan hanya strategi dorongan dari para manajer di atas.

    b. Budaya terdiri atas asumsi-asumsi yang diandaikan, makna yang dihayati bersama dan nilai-nilai yang mendasari pemecahan masalah-masalah kritis, pengambilan keputusan, pengendalian, komunikasi antarwarga, persepsi dan pembenaran tindakan.

    c. Budaya menggejala dalam rutinitas sehari-hari, dalam proses pembentukan identitas organisasi.

    Mencermati uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kultur atau budaya dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai ide, gagasan atau nilai, persepsi, serta pandangan hidup tentang suatu organisasi yang tampak dalam aktivitas yang berpola, teratur, dan ada unsur kebiasaan, serta dapat menghasilkan sesuatu sebagai karya organisasi/kelompok.

Berbicara mengenai budaya suatu organisasi sesungguhnya menyangkut pandangan makro yang mengacu pada budaya dominannya.

    Siswa merupakan salah satu subsistem dalam sistem organisasi sekolah yang dengan budaya atau subkulturnya sendiri turut mewarnai budaya khas suatu sekolah, di samping budaya yang ada di kalangan guru, staf dan yang lainnya. Jika dalam wacana yang menyangkut organisasi secara umum sistem itu disebut sebagai organization culture, maka dalam organisasi sekolah itu disebut sebagai school culture. Untuk maksud penelitian ini selanjutnya digunakan istilah kultur sekolah sebagai padanan dari school culture. Peneliti tidak menggunakan istilah budaya sekolah untuk menghindari kerancuan pengertian oleh makna budaya dalam aspek yang lain seperti halnya dalam istilah populer. Istilah kultur sekolah dalam beberapa literatur juga telah digunakan diantaranya oleh Zamroni dalam bukunya Paradigma Pendidikan Masa Depan. Bahkan untuk maksud yang sama, istilah serupa juga digunakan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. 2. Pengertian Kultur Sekolah Menurut Zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi (baca: pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah. Berdasarkan berbagai definisi tentang budaya, Zamroni merumuskan pengertian kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Tokoh lain Phillips (1993: )

 Mendefinisikan kultur sekolah sebagai “The beliefs, attitudes, and behaviors which characterize a school”, yaitu kepercayaan, sikap, dan perilaku yang mencerminkan karakteristik suatu sekolah. Berikutnya Richardson (Masden & Wagner, 2005):

    1)  Mendefinisikan Kultur Sekolah sebagai: “…is the accumulation of many individuals‟ values and norms. It‟s the group‟s expectations, not just an individual‟s expectations. It‟s the way everyone does business.” Menurutnya, kultur sekolah merupakan akumulasi nilai-nilai dan norma-norma sekelompok orang; pandangan kelompok ke depan, bukan individu; dan cara setiap orang dalam memandang dan memecahkan persoalan. Sergiovanni (Masden & Wagner, 2005:

    2) Menekankan makna kultur sekolah dalam kaitannya dengan upaya menciptakan sekolah efektif dengan menyatakan: The culture of a school is particularly important. Most successful school leader will tell you that getting the culture right and paying attention to how parents, teachers, and students define and experience meaning are two  accepted rules for creating effective schools. Paying attention to the values and how they are exhibited in rituals, traditions, stories and other demonstrations of ”how we do things here” provides the infrastructure for school improvement. One mode of exhibiting school culture is throught the collaborative planning, implementation and evaluation of specific professional development is accepted and embraced by all.

    Berdasarkan beberapa konsep di atas kultur sekolah dapat dijelaskan sebagai nilai, persepsi, keyakinan, sikap dan cara hidup serta perilaku yang berpola, teratur dan ada unsur kebiasaan untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara untuk memandang dan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu sekolah yang terbentuk sepanjang perjalanan sebuah sekolah.

3. Elemen-elemen Kultur Sekolah Sebagaimana telah digambarkan dalam pengertian di atas, kultur sekolah merupakan perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah norma-norma, ritual-ritual, keyakinan, nilai-nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. Bentuk kultur sekolah secara intrinsik muncul sebagai sebuah fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat berfungsi sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah.

     Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) mendeskripsikan unsur-unsur budaya sekolah dalam dua katagori, yakni unsur yang kasat mata/visual dan unsur yang tidak kasat mata. Unsur yang kasat mata mempunyai makna kalau berkaitan atau kalau mencerminkan apa yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata itu adalah filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai-nilai, yaitu apa yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Itu semua harus dinyatakan secara konseptual dalam rumusan visi, misi, tujuan dan sasaran yang lebih konkrit yang akan dicapai sekolah.

    Adapun unsur yang kasat mata dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil. Yang verbal meliputi: (1) visi, misi, tujuan dan sasaran; (2) kurikulum; (3) bahasa komunikasi; (4) narasi sekolah; (5) narasi tokoh-tokoh; dan (6) struktur organisasi; (7) ritual; (8) upacara; (9) prosedur belajarmengajar; (10) peraturan, sistem ganjaran/hukuman; (11) pelayanan psikologis sosial; (12) pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materiil dapat berupa: (1) fasilitas dan peralatan; (2) artifak dan tanda kenangan; (3) pakaian seragam. Disebutkan dalam buku Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah (Depdiknas, 2003: 3) bahwa kultur sekolah memiliki dua lapisan. Lapisan pertama sebagian dapat diamati dan sebagian tidak dapat diamati. Lapisan yang bisa diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara, ritusritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambargambar, tanda-tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur sekolah berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua semuanya tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Jika lapisan pertama yang berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sukar diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.

B.Peran Kultur Peningkatan Kinerja Sekolah

    Kinerja sekolah adalah prestasi yang dihasilkan dari proses atau perilaku sekolah, yang dapat dilihat dari produktivitas, efisiensi, inovasi, kualitas kehidupan kerja dan moral kerjanya. Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswa yaitu hasil belajar dan atau perilaku belajar, dalam hal ini disiplin, motivasi, daya saing dan daya kerja sama, kemampuan untuk berprakarsa dan memperhitungkan resiko serta sikap pencapaian prestasi dalam persaingan. Khusus berkenaan dengan output sekolah dijelaskan bahwa output sekolah dapat dikatakan berkualitas tinggi jika prestasi sekolah khususnya prestasi anak didik menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal: hasil tes kemampuan akademik, berupa nilai ulangan umum, UAS, UAN; prestasi di bidang nonakademik, seperti olah raga, seni, keterampilan.

    Suyanto & Abbas mengemukakan, sekolah adalah lembaga pendidikan yang selama ini kerap menjadi sasaran pertanyaan masyarakat berkaitan dengan kinerja dan produk kerjanya yang cenderung di bawah standar mutu yang diharapkan. Hampir semua kasus yang menimpa generasi muda, dijadikan hujatan kepada sekolah. Seakan-akan sekolahlah pusat dari segala malapetaka itu.

    Terlepas dari benar atau salah, satu hal yang pasti, sekolah harus beradaptasi dengan perubahan. Harus ditumbuhkan perubahan yang dapat menciptakan keberhasilan upaya-upaya meningkatkan mutu pengelolaan dan mutu hasil pembelajarannya.

    Pendidikan yang berwujud lembaga atau institusi sekolah dalam terminologi kebudayaan, dapat dianggap sebagai suatu pranata sosial yang di dalamnya berlangsung kelakuan-kelakuan tertentu yaitu interaksi antara pendidik dan peserta didik sehingga mewujudkan suatu sistem nilai atau keyakinan, norma juga kebiasaankebiasaan yang dipegang bersama. Jika demikian maka masalah selanjutnya adalah nilai-nilai apa yang seharusnya dikembangkan atau dibudayakan dalam proses pendidikan itu. Sementara itu dalam perspektif kultur, Djohar menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat mensosialisasikan nilai-nilai budaya, tidak hanya terbatas pada nilai-nilai keilmuan tetapi semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan terwujudnya manusia berbudaya. Untuk menuju internalisasi nilai-nilai dimaksud siswa harus dipacu motivasinya untuk berprestasi dan semangat belajarnya demi terwujudnya kinerja siswa yang dicita-citakan setiap sekolah.

    Hal ini dilakukan tidak saja dengan fasilitas dan sarana prasana yang memadai, tapi juga dengan menumbuhkembangkan nilai-nilai budaya sekolah yang positif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perangkat Pembelajaran _Magang_Mahasiswi IAIN

  RESUME PERANGKAT PEMBELAJARAN ( SILABUS, RPP,MEDIA PEMBELAJARAN, BAHAN AJAR, LKS DAN PERANGKAT EVALUASI) Mata Kuliah: MAGANG 1 Dosen Penga...